Yang namanya banjir atau benca alam tidak memang korbannya mau itu dari latar belakang yang sangat miskin atau yang kaya begitu juga dengan profesinya tetap saja semua meraskan yang namanya bencana.
Terserah anda mengatakannya itu hak anda tapi itulah kenyataanya…SBY mengalami semacam “kudeta”kecil dimana ketika akan pulang ke Istana dari kunjungan mendadak atau istilah kerennya Inspeksi Mendadak ke Karawang untuk melihat perkembangan harga dari bahan – bahan pokok,SBY terjebak dalam situasi hujan deras yang dari semalam sudah menguyur Ibukota dan kota – kota pinggiran DKI seperti Bekasi,Tangerang,dan Depok serta Bogor..mobil yang membawa rombongan RI 1 tersebut akhirnya kalah dengan air karena supir yang membawa SBY tidak bisa lagi melakukan manuver mobilnya supaya bisa sampai ke Istana untuk mengadakan rapat yang dirancang oleh SBY dan hasil rapat itu sendiri sekaligus mengeluarkan Perintah Presiden RI dalam hal menstabilkan harga dari kebutuhan pokok.
Akhirnya SBY pun merelakan turun dari kendaraan dinasnya untuk beralih ke dalam kendaraan yang biasa digunakan oleh Pengawalnya yang mungkin standar dari kendaraan itu jauh dari kendaraan yang biasa SBY gunakan tapi akhirnya SBY pun sampai juga di Istana.
Stop bicarakan SBY yang ada sekarang bagaimana di awal tahun 2008 ini DKI dan sekitarnya kedatangan tamu yang seharusnya selalu datang setiap lima tahun sekali tapi kali ini belum ada lima tahun mendatang sudah datang…iya siapa lagi dan siapa bukan yaitu banjir…ya sejak hari kamis tanggal 31 Januari 2008 malam tepat berakhirnya bulan Januari DKI dan sekitarnya diguyur hujan mulai dari rintik – rintik hingga deras yang tanpa henti – hentinya dan akhirnya pada Jumat tepat di awal bulan Februari tiba-tiba di wilayah DKI sudah menunjukkan tanda – tanda genangan yang semakin lama semakin lebar bahkan DKI sudah bisa mampu membuat danau tanpa harus dirancang dan ditender ke sejumlah perusahaan.
Dampak dari banjir satu hari ini adalah tersendatnya jalur pesawat yang akan tinggal landas hingga turun landas ke Bandara Internasional Soekarno – Hatta,Cengkareng. Banyak penerbangan yang seharusnya parkir dan menurunkan di Cengkareng harus rela “dibuang” ke Bandara Palembang , Adi Sucipto , Adi Sumarno serta yang paling dekat di Pangkalan Militer Angkatan Udara Halim Perdana Kusuma.anda bisa bayangkan bagaimana Chaosnya Bandara yang menjadi tumpahan dari Bandara Soekarno – Hatta dan berapa ratus juta bahkan puluhan juta uang yang dikeluarkan para penumpang untuk beli tiket terbuang percuma karena dampak banjir,kemudian ada seorang bussinesman asal kalau tidak salah Mesir harus rela kehilangan uang sebesar US$ 20,000 untuk mungkin tender bisnisnya di salahsatu daerah di Sumatra,kalau keadaaan seperti ini kepada siapa mereka harus meminta pertanggung jawaban.
Memang Banjir ini bukan kehendak kita,tapi bisa jadi kehendak kita kalau kitanya tidak bersikap dewasa,kenapa ada banjir ? ya..karena masih banyak sebagian orang terutama kaum marjinal dan rakyat jelata yang tidak tahu dimana mereka akan membuang sampah dan tempat tinggal,dan juga bukan hanya rakyat jelata dan kaum marjinal yang dijadikan tersangka dalam kasus banjir DKI baik siklus lima tahunan atau yang terjadi kemarin,tetapi lebih kepada kaum Borjuis alias kalangan jetset kenapa penulis bilang kaum borjuis dan jetset lah yang menjadi biang dari segala biang kekacauan dari banjir ini ? karena kita bisa lihat bagaimana perkembangan gedung-gedung beton yang menghiasi jalan – jalan protokol ibukota,mulai dari perumahan yang dekat dengan akses tol atau jalan protokol lalu banyaknya Mall mulai dari tingkat biasa hingga Mall Berseri sekian hingga apartemen ratusan lantai yang hampir sama dengan tinggi Monas tapi dari semua itu tidak ada barternya kepada alam,dan terbukti Gedung – gedung itu dibangun tapi apakah adakah dari semua gedung itu memiliki sarana drainase atau adanya lahan khusus meresap air hujan ? jawabnya TIDAK ADA….
Sudahlah sekarang bukan lagi siapa yang menjadi tersangka dan siapa yang menjadi korban dari peristiwa banjir ini,yang penting bagaimana caranya agar DKI tidak menjadi Danau Buatan yang sangat besar dan dalam melebihi danau Toba atau Bunaken yang setiap datangnya lima tahun sekali…sudah saatnya berubah dan menghilangkan kutukan itu,apa jawaban kita kalau ada turis dari luar melihat dan bertanya kepada kita ketika mendarat di Bandara Internasional Soekarno – Hatta dan melihat banyak genangan tidak seperti apa yang dibayangkan oleh turis itu berbeda 180 derajat ketika melihat brosur yang terdapat di Kantor Perjalanan Wisata di negaranya atau di Kedutaan Besar Republik Indonesia dan mengiyakan untuk berwisata ke Indonesia ?
Jakarta Punya Busway…Jakarta sering Kebanjiran….! OK !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar